Memuat...

Ramadan di Perantauan: Kehangatan Keluarga Baru di Asrama Nusantara

Jauh dari pelukan keluarga, para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Surabaya menjalani Ramadan dengan warna yang berbeda tahun ini. Di sela kesibukan menuntut ilmu, mereka yang datang dari berbagai penjuru cakrawala Indonesia tetap teguh menjalankan ibadah puasa. Bagi sebagian besar penghuni, Ramadan 1446 Hijriyah ini menjadi momen emosional karena harus dilewati jauh dari aroma masakan rumah dan kebersamaan di kampung halaman.

09 Mar 2026
Berita Umum
39 views
Khifda
Ramadan di Perantauan: Kehangatan Keluarga Baru di Asrama Nusantara
1 bulan yang lalu
39 views
Khifda

Jauh dari pelukan keluarga, para mahasiswa di Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Surabaya menjalani Ramadan dengan warna yang berbeda tahun ini. Di sela kesibukan menuntut ilmu, mereka yang datang dari berbagai penjuru cakrawala Indonesia tetap teguh menjalankan ibadah puasa. Bagi sebagian besar penghuni, Ramadan 1446 Hijriyah ini menjadi momen emosional karena harus dilewati jauh dari aroma masakan rumah dan kebersamaan di kampung halaman.

Tantangan nyata dirasakan oleh mereka yang baru pertama kali mencicipi kehidupan merantau. Tradisi sahur dan berbuka yang biasanya dipenuhi keriuhan keluarga, kini berganti menjadi kebersamaan di ruang makan asrama.

“Biasanya kalau sahur atau buka puasa itu sama keluarga, dibangunin Mama. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ujar Lidza, mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur asal Jawa Barat, mengenang suasana rumahnya.

Namun, di balik rasa rindu yang sesekali menyerang, kehidupan asrama justru menawarkan pengalaman baru yang tidak kalah berkesan. Di gedung ini, para mahasiswa lintas daerah saling menguatkan. Perbedaan suku dan bahasa melebur saat mereka duduk melingkar menanti azan Maghrib.

Hal serupa dirasakan oleh Rahmat Butholo, mahasiswa Universitas Airlangga asal Gorontalo. Baginya, ikatan yang tercipta di AMN adalah harta karun selama bulan suci. “Kebersamaan di AMN menjadi pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika tidak tinggal di sini,” ungkap Rahmat dengan binar mata penuh syukur.

Untuk mengisi relung waktu di bulan suci, para penghuni asrama aktif menghidupkan berbagai kegiatan keagamaan. Mulai dari sahur dan buka puasa bersama, hingga deru doa dalam salat Tarawih serta tadarus Al-Qur’an yang bergema setiap malam.

Rangkaian kegiatan ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan cara mereka menyembuhkan rasa sepi. Rahmat menambahkan bahwa aktif dalam kegiatan kolektif adalah langkah terbaik agar rindu tidak berubah menjadi pilu. Melalui dukungan antar-penghuni, Ramadan di perantauan tetap terasa hangat dan bermakna — membuktikan bahwa meski jauh dari rumah, mereka telah menemukan “keluarga” baru di bawah atap Nusantara. (*)

Berita ini dimuat: https://medium.com/@ruangmedianusantaraa/ramadan-di-perantauan-kehangatan-keluarga-baru-di-asrama-nusantara-9a30dd141048

Bagikan Berita