Samapta Asrama Mahasiswa Nusantara Evaluasi Kebugaran Fisik Penghuni
SURABAYA — Kegiatan Samapta Asrama Mahasiswa Nusantara yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 menjadi salah satu upaya untuk mengevaluasi kebugaran fisik para penghuni. Kegiatan yang dilaksanakan di lapangan bendera tersebut diikuti peserta jalur Proaktif dan Reguler sebagai bagian dari pemantauan kemampuan fisik penghuni asrama.
SURABAYA — Kegiatan Samapta Asrama Mahasiswa Nusantara yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 menjadi salah satu upaya untuk mengevaluasi kebugaran fisik para penghuni. Kegiatan yang dilaksanakan di lapangan bendera tersebut diikuti peserta jalur Proaktif dan Reguler sebagai bagian dari pemantauan kemampuan fisik penghuni asrama.
Ketua Pelaksana Samapta, Ahmad Fahrur Rozi, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kondisi fisik penghuni, baik laki-laki maupun perempuan. Evaluasi dilaksanakan dua kali dalam setahun agar kemampuan fisik penghuni dapat dipantau dan ditingkatkan sesuai kebutuhan kegiatan asrama.
“Tujuannya ya memang untuk menilai sejauh mana perkembangan fisik dari semua penghuni, baik laki-laki ataupun perempuan, ini naik ataupun turun. Kalau misalkan naik, ya berarti akan ditingkatkan. Tapi kalau turun, ya otomatis akan nanti ada treatment-treatment khusus untuk yang memang fisiknya kurang dan lain sebagainya,” jelasnya.
Menurutnya, kesiapan fisik menjadi hal penting karena aktivitas penghuni tidak hanya berpusat pada kegiatan akademik. Berbagai kegiatan asrama, seperti pendidikan dan pelatihan (diklat), orientasi, serta outbound, juga membutuhkan kondisi fisik yang memadai. Karena itu, Samapta menjadi salah satu sarana untuk mengetahui kemampuan penghuni dalam menghadapi padatnya aktivitas tersebut.
Sebelum kegiatan berlangsung, panitia melakukan sejumlah persiapan, mulai dari rapat, pemaparan teknis, hingga penyusunan modul kegiatan. Modul tersebut digunakan sebagai pedoman bagi petugas dan penilai di setiap pos agar gerakan, tahapan pelaksanaan, serta aspek penilaian dapat dipahami dengan baik.
Ia menuturkan bahwa persiapan tahun ini juga mencakup pengecekan teknis sehari sebelum kegiatan. Para petugas pos diberikan contoh gerakan yang benar beserta penjelasan mengenai tahapan pelaksanaan dan aspek yang menjadi dasar penilaian.
“Jadi memang betul-betul kita sesuaikan dengan modul yang kita buat sendiri sehingga mengurangi risiko cedera dan lain sebagainya,” ujarnya.
Meski persiapan telah dilakukan, pelaksanaan Samapta tetap menghadapi sejumlah kendala. Salah satu yang menjadi perhatian panitia adalah kurangnya waktu istirahat sebagian penghuni sebelum mengikuti kegiatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesiapan tubuh peserta ketika menjalani tes fisik.
Ia juga menuturkan bahwa penghuni perlu memahami kemampuan fisik masing-masing serta menjaga kondisi tubuh sebelum mengikuti Samapta. Peserta telah diingatkan untuk beristirahat dengan cukup dan mengikuti arahan pembimbing terkait pemanasan serta pemulihan setelah kegiatan.
Di sisi lain, ia menilai pelaksanaan Samapta tahun ini berlangsung lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, keinginan peserta untuk menyelesaikan kegiatan dan melanjutkan aktivitas berikutnya turut mendukung kelancaran pelaksanaan.
“Sebetulnya lebih cepat selesainya karena teman-teman semua, baik dari remaja maupun dewasa, memang mereka pengin cepat selesai, pengin cepat melaksanakan kegiatan selanjutnya. Itu jadi poin tersendiri buat saya, ya itu malah bagus,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berharap Samapta dapat membantu penghuni mengenali kemampuan fisik masing-masing sehingga mereka mengetahui aspek yang perlu ditingkatkan. Hal tersebut dinilai penting mengingat penghuni harus membagi waktu dan tenaga antara perkuliahan, kegiatan mahasiswa, dan berbagai aktivitas asrama.
Melalui kegiatan ini, penghuni diharapkan tidak hanya mengetahui kemampuan fisiknya, tetapi juga semakin menyadari pentingnya menjaga kebugaran di tengah rutinitas yang padat.
Pengalaman mengikuti Samapta juga dirasakan oleh Hilda Shafana, salah satu penghuni dan peserta. Ia mengaku kegiatan hari pertama berlangsung sangat seru dan bermanfaat. Menurutnya, Samapta tidak hanya melatih kebugaran fisik, tetapi juga membantu peserta memahami pentingnya menjaga kesehatan dan mengevaluasi kondisi fisik untuk ke depannya.
“Jadi, kesan saya tentunya benar-benar seru dan juga bermanfaat banget, karena hari ini bukan hanya melatih kebugaran fisik, tetapi juga melatih kesehatan kita. Kita jadi tahu bagaimana kesehatan kita perlu diuji dan bagaimana pentingnya menjaga kesehatan serta melatih fisik untuk ke depannya,” ungkap Hilda.
Sebelum mengikuti kegiatan, Hilda memperkirakan Samapta akan berlangsung lebih berat karena melibatkan sekitar 400 mahasiswa. Namun, pelaksanaan kegiatan ternyata berlangsung lebih cepat dari yang dibayangkannya. Ia menilai pembagian sesi peserta berjalan dengan baik sehingga kegiatan dapat dilaksanakan secara efektif. Selain itu, ia juga mengapresiasi persiapan panitia, termasuk penyediaan konsumsi bagi peserta.
“Pandangan saya sebelumnya tidak berbeda jauh dengan yang saya rasakan sekarang. Saya kira kegiatannya akan lebih berat karena kita berhadapan dengan sekitar 400 mahasiswa. Namun, ternyata pembagian sesinya membuat pelaksanaan berlangsung cepat. Saya juga tidak pernah membayangkan akan mendapatkan konsumsi. Menurut saya, perencanaan kegiatannya benar-benar bagus,” jelasnya.
Bagi Hilda, pelaksanaan Samapta memberikan pengalaman yang menyenangkan dan tidak membosankan. Pengalaman tersebut juga membuatnya melihat bahwa kegiatan yang awalnya diperkirakan cukup berat ternyata dapat berlangsung dengan baik berkat pembagian sesi dan persiapan panitia.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Sarlota, salah satu peserta. Ia mengaku sempat merasa kaget saat mengikuti kegiatan hari pertama. Namun, rasa terkejut tersebut bukan karena pengalaman negatif, melainkan karena pelaksanaan kegiatan ternyata berlangsung lebih cepat daripada yang dibayangkannya.
“Kesan yang saya dapatkan mungkin agak sedikit kaget dan terkejut. Kagetnya bukan ke arah yang negatif, tetapi awalnya saya kira kegiatan ini akan berlangsung lama dan memakan banyak waktu. Namun, ternyata kegiatannya cukup cepat dan lancar,” ungkap Sarlota.
Bagi Sarlota, Samapta juga menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kegiatan pengukuran kebugaran fisik sejak menjadi penghuni baru asrama. Ia menilai pengalaman tersebut memberinya wawasan baru mengenai kegiatan fisik yang diselenggarakan di lingkungan asrama. Dengan mengikuti kegiatan ini, ia berharap dapat lebih memahami rangkaian Samapta sehingga tidak lagi merasa terlalu terkejut apabila kegiatan serupa dilaksanakan kembali.
“Ini pertama kalinya saya mengikuti kegiatan seperti ini karena saya termasuk penghuni baru di sini. Pengalaman ini membuat saya memiliki wawasan baru tentang kegiatan fisik, sehingga ke depannya saya tidak terlalu kaget lagi ketika mengikuti kegiatan seperti ini,” jelasnya.
Samapta menjadi bagian dari upaya asrama dalam memantau kebugaran penghuni sekaligus mendorong mereka untuk lebih memperhatikan kesiapan fisik. Hasil evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi setiap penghuni untuk menjaga dan meningkatkan kemampuan fisiknya agar mampu mengikuti berbagai kegiatan akademik maupun nonakademik dengan baik.
Info Berita
Berita Terkait
Kunjungan Media Oleh AMN Surabaya ke Harian Disway Surabaya
Medical Check-Up Digelar di Asrama Mahasiswa Nusantara Surabaya, Diikuti Seluruh Penghuni Angkatan 2025 dan 2026