JUARA 1 LOMBA PENULISAN ESSAY MADE AYU SAWITRI DHARMAYANTI
Cultural-healing tourism adalah konsep pariwisata baru yang mengintegrasikan healing tourism dengan unsur budaya. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk healing tourism karena tradisi, budaya, dan sumber daya alam yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sensibilitas budaya tradisional Desa Tenganan dan mengungkap potensinya sebagai cultural-healing tourism yang berbasis pada unsur-unsur Tri Hita Karana. Data penelitian diperoleh melalui observasi langsung, studi literatur, dan wawancara mendalam. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang ditentukan secara purposive sampling. Penelitian dilakukan di Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem, Bali.
Judul Essay : DARI TRADISI MENUJU TRANSFORMASI: MENYINGKAP
POTENSI CULTURAL-HEALING TOURISM MELALUI
BUDAYA TENGANAN PEGRINGSINGAN DALAM
MENDUKUNG INDONESIA EMAS 2045
Cultural-healing tourism adalah konsep pariwisata baru yang mengintegrasikan healing tourism dengan unsur budaya. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk healing tourism karena tradisi, budaya, dan sumber daya alam yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sensibilitas budaya tradisional Desa Tenganan dan mengungkap potensinya sebagai cultural-healing tourism yang berbasis pada unsur-unsur Tri Hita Karana. Data penelitian diperoleh melalui observasi langsung, studi literatur, dan wawancara mendalam. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang ditentukan secara purposive sampling. Penelitian dilakukan di Desa Tenganan, Kabupaten Karangasem, Bali.
Pendekatan fenomenologi digunakan dalam penelitian ini dan diolah menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh budaya yang diadaptasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Tenganan, yakni menikmati matahari terbit dan Yoga Surya Namaskara (Matangi), menanam tanaman di ladang (Mamula), menenun Tenun Gringsing (Nyait), menulis di daun lontar (Nyurat), berkumpul di rumah tradisional (Matemu), menyaksikan pertunjukan tradisional Perang Pandan (Mabalih), dan meditasi (Semadi). Konsep cultural-healing tourism mengangkat temuan sensibilitas dalam budaya dan disusun untuk mencapai kebebasan lahir dan batin, mencapai keharmonisan dalam interaksi, dan pemenuhan identitas melalui penggalian makna hidup. Dengan demikian, budaya Desa Tenganan memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai konsep cultural-healing tourism.